Apa Sih Kain Ramah Lingkungan Itu? Ini Penjelasannya!

Fokus setiap orang dalam berpakaian adalah kenyamanan. Selain itu tentu saja bahan yang bagus dan motif yang menarik. Namun tak banyak orang yang memikirkan tentang penggunaan kain ramah lingkungan. Meskipun mungkin kenyamanan nomer satu dalam berpakaian, tapi tidak ada salahnya Anda mulai memikirkan untuk menggunakan kain ramah lingkungan. Seperti apakah itu? Ikuti terus penjelasannya.

Konsep Industri Ramah Lingkungan

Dewasa ini industri fabrikasi menempati keunggulan nomer satu dalam dunia perindustrian di Indonesia. Karena itu selalu ada saja tuntutan untuk menomorsatukan dampak yang ditimbulkan. Salah satunya adalah dampak terhadap lingkungan. Industri yang paling menimbulkan dampak terhadap lingkungan adalah industri fabrikasi garmen.

Karena itu ada standar operasional prosedur yang harus diikuti. Salah satunya adalah yang ditetapkan dalam konsep K3 atau lebih dikenal dengan keselamatan dan kesehatan lingkungan kerja. Tujuannya adalah untuk meminimalkan dampak kurang baik pada lingkungan. Sebagai hasil dari industri yang ditimbulkan dalam operasionalnya.

Industri Garmen Berbasis Lingkungan

Setiap perusahaan pelaku industri dituntut untuk ramah lingkungan. Termasuk juga dengan industri garmen. Bahkan khusus untuk industri garmen yang memiliki tingkat produksi tinggi, pasti juga menghasilkan limbah yang banyak pula. Dan seperti Anda ketahui bahwa limbah industri jelas banyak mengandung bahan kimia. Karena memang dibutuhkan pada saat proses produksinya.

Namun dewasa ini semua industri garmen dituntut untuk selalu ramah lingkungan. Perizinan produksi bahkan ketika masih bersifat rencana produksi pemeliharaan lingkungan (RPL) harus memenuhi standar yang ketat. Sebelum akhirnya perizinan industri dikeluarkan.

Khusus industri garmen sebelum beroperasi bahkan sudah harus mengantongi beberapa izin sekaligus. Yakni izin perencanaan produksi, penanggulangan dampak lingkungan dan amdal (analisa dampak mengenai lingkungan).

Berbagai Jenis Kain Garmen

Dari ketatnya perizinan tersebut yang harus memenuhi konsep ramah lingkungan, sehingga berpengaruh pada hasil kain produksinya. Kain sebagai hasil produksi garmen yang ramah lingkungan tentu saja harus memenuhi beberapa syarat, sebagai berikut:

  • Kain bukan berupa hasil jadi yang tidak bisa didaur ulang.
  • Bahan pewarna untuk memberi pewarnaan pada kain adalah bahan yang alami.
  • Pabrik produsen harus menyantumkan ecolabel pada kain produksinya.
  • Produsen menyematkan tata cara perlakukan terhadap kain hasil produksi.
  • Limbah produksi harus setidaknya berada pada level terendah pada batas maksimal yang diizinkan.
  • Aksesoris pakaian dari hasil olahan kain tidak menggunakan unsur plastik.

Kain Ramah Lingkungan

Itulah beberapa hal tentang kain ramah lingkungan. Sehingga mulailah bersikap bijak dalam menggunakan kain untuk berbusana. Pilihlah yang memiliki ecolabel atau setidaknya tercantum sign peringatan atau arahan dalam memberlakukan kain tersebut.

Jenis-jenis kain yang pada umumnya memiliki resiko tinggi berdampak pada lingkungan adalah jenis kain batik. Baik itu batik celup, batik tulis ataupun batik cap. Kemudian juga kain rajutan atau tenun celup. Semua jenis kain tersebut rata-rata menggunakan sistem pewarnaan yang agak rumit. Baik dari teknik, bahan maupun pemeliharaannya.

Berikut adalah penjelasan bagi tiap jenis kain.

  • Kain Batik

Batik terdiri dari beberapa jenis, yakni batik tulis, batik celup, ataupun batik cap. Batik memiliki teknik pewarnaan yang rumit. Dan juga biasanya membutuhkan banyak warna. Karena itu ada jenis batik yang menggunakan bahan pewarnaan alami, ataupun bahan kimia. Keduanya, meski yang alami sekalipun tetap memiliki dampak.

  • Kain Organic Cotton

Dikenal sebagai katun organik. Dalam proses pembuatan kain ini tidak perlu banyak air. Dan juga pestisida. Sekarang pun telah diproduksi kain katun yang aman untuk lingkungan, Yakni kain yang tidak menggunakan banyak bahan pewarna.

  • Kain Songket

Kain songket hampir sama seperti batik. Membutuhkan banyak warna di dalam proses produksinya. Hanya saja, kain songket dibuat dari jalinan benang-benang berbagai warna yang dipintal menjadi kain.

Sehingga proses pewarnaan yang berdampak pada lingkungan adalah terjadi pada saat produksi benang berlangsung. Berbeda dengan batik, yang proses pewarnaan pada saat memberikan motif pada sebuah kain putih polos.

  • Kain Tencel

Jenis kain ini berasal dari serat selulosa yang alami. Serat yang dikandung oleh kayu. Sifatnya mudah diurai. Dalam produksinya pun, kain tencel ini tidak terlalu banyak membutuhkan bahan kimia. Menjadikan kain ini nyaman dipakai dan aman bagi lingkungan.

  • Kain Linen

Kain yang diproduksi dari tanaman rami. Tumbuhan ini biasa ditanam pada tanah berkondisi kering. Saat proses produksi tumbuhan rami pun sangat sedikit menggunakan bahan kimia atau pestisida. Sementara itu, limbah dalam proses produksi menjadi kain dikelola dengan baik. Limbahnya didaur ulang menjadi kompos atau sebagai bahan produksi pernis.

  • Kain Rajutan

Kain jenis ini hampir mirip dengan kain songket. Proses pewarnaan yang berdampak pada lingkungan terjadi pada saat pembuatan benangnya. Perbedaan terdapat pada saat proses menjadikan kain. Kalau songket benangnya dipintal maka pada rajutan benangnya dirajut. Baik menggunakan rajutan tangan ataupun mesin.

  • Kain Serat

Kain yang diproduksi dari berbagai serat tanaman. Misalkan serat bambu dan serat hemp. Tanaman bambu adalah tanaman yang cepat dipanen. Sementara tanaman hemp merupakan tanaman yang cepat tumbuh. Keduanya minim penggunaan pestisidanya. Kain hasil jadi dari serat bambu juga bersifat antibakteri. Sedangkan serat hemp sangat mudah terurai.

Cara perawatan keduanya pun relatif mudah. Kain terbuat dari serat. Baik bambu ataupun hemp, cukup dikucek saja dengan ringan. Tidak memerlukan banyak detergen ketika mencuci. Dan cukup dijemur dengan pencahayaan yang redup.

Ciri-ciri Kain yang Ramah Lingkungan

Berikut beberapa ciri dari kain ramah lingkungan yang harus Anda ketahui.

  • Tidak luntur. Kain yang ramah lingkungan ketika dicuci biasanya tidak luntur.
  • Tercantum ecolabel. Terdapat sign-label berupa ecolabel yang menandakan bahwa kain tersebut ramah lingkungan.
  • Cenderung mahal. Harga kain jenis ini relatif agak mahal dibandingkan dengan kain biasa. Hal ini dikarenakan proses produksinya jauh lebih rumit dan dengan menggunakan teknologi yang cukup modern. Karena itu berdampak kepada biaya produksi.
  • Warna soft. Biasanya kain ini memiliki warna yang tidak terlalu terang juga tidak terlalu gelap. Cenderung berwarna kalem.
  • Bahan lembut. Kain ramah lingkungan ketika diraba permukaannya tidak kasar. Pori–pori kainnya cukup rapat.
  • Tercantum petunjuk perawatan. Biasanya kain yang ramah lingkungan oleh pabrik selalu menyematkan tanda atau petunjuk untuk perawatan kain. Seperti petunjuk untuk tidak menjemur di bawah terik matahari langsung. Selain itu, menyetrika dengan panas yang sedang (warm).
  • No–plastic wear. Seluruh aksesoris atau atribut pelengkap tidak menggunakan plastik. Tujuannya adalah meminimalkan unsur microplastic. Misalnya menghindari menggunakan kancing yang terbuat dari plastik. Dan menggantinya dengan kancing terbuat dari batok kelapa atau kayu.

Demikian beberapa kain ramah lingkungan yang wajib Anda ketahui. Selain mementingkan penampilan, mengutamakan lingkungan juga perlu dalam berbusana.

Leave a Reply

Your email address will not be published.