Sejarah Kaos Polos Berawal dari Polemik Hingga Populer

Sejarah Kaos Polos berawal dari pakaian dalam yang digunakan baik pria maupun wanita. Tetapi, teori pasti mengenai keberadaan produk ini memang tidak diketahui. Bahkan, penelitian para ahli, belum bisa menjelaskan siapa pemakai dan penemu pertama kali hingga berasal dari mana.

Hanya cerita masyarakat sekitar pada abad ke 19 dan 20 di Inggris serta Amerika Serikat. Banyak yang menggunakannya, dari berbagai kalangan serta usia. Bahkan, penamaan T-shirt sendiri hanya berdasarkan pada kata satu orang, kemudian menyebar ke telinga lainnya sampai sekarang.

Pemberian huruf ini sendiri berdasarkan pada bentuknya menyerupai huruf T. Digunakan pada saat musim panas, atau pada kondisi udara mencapai 30 derajat ke atas. Fungsinya sebagai penyerap keringat. Dari segi warna serta motif masih polos putih begitu saja, belum seperti sekarang dengan berbagai kreasi.

Ada fakta unik mengiringi perjalanan sejarah kaos polos hingga begitu tenar di seluruh dunia. Berawal dari sebuah polemik tentang norma kesopanan. Beberapa orang menilai menggunakan baju polos melanggar etika. Tetapi, semakin dilarang, banyak anak muda menggunakannya sebagai bentuk kebebasan berekspresi.

Polemik Berkepanjangan dan Juga Terus Bermunculan

Polemik penggunaan T-shirt terus bermunculan, argumen satu dimunculkan agar perkembangannya tidak meluas. Tetapi, kenyataan di lapangan berkata lain, semakin ditentang banyak anak muda menggunakannya. Bahkan, ada pengusaha mencoba menangkap keadaan tersebut sebagai ladang bisnis, sebagian lain mencibir dan meragukannya.

Tetapi, setelah produksi masal dilakukan hasilnya di luar perkiraan. Bisnis tersebut berkembang pesat bahkan, hampir seluruh masyarakat membelinya dalam jumlah banyak. Perkembangan mulai warna serta model jadi alasannya. Tidak hanya warna putih saja, ada merah, biru, hitam, hingga hijau.

Perusahaan konveksi yang awalnya mencibir akhirnya, mengikuti jejak dengan motif lebih variatif. Kejadian tersebut, jadi pertanda berdirinya berbagai pabrik. Penjualannya juga berkembang tidak hanya didalam negeri. Melainkan, sampai ke luar negeri serta beberapa negara tetangga mulai menyukainya.

Digunakan Oleh Tentara Hingga Digunakan oleh Aktor

Sejarah Kaos Polos semakin populer pada tahun 1947. Waktu itu, Marlon Bando seorang aktor terkenal mengenakannya ketika pentas teater. Marlon memerankan tokoh bernama Stanley Kowalsky dalam judul A Street Named Desire di Amerika Serikat. Warna abu-abu yang dikenakan tampak cocok.

Semua penonton bertepuk tangan dan kagum. Banyak dari mereka menginginkan kaos tersebut. Setelah diproduksi besar aktor ini menggunakannya bersama celana jeans dan jaket kulit sebagai model iklan. Semakin, populer saat dikenakan oleh para tentara Inggris dan Amerika Serikat.

Mereka menggunakannya pada acara santai atau tidak berdinas. Kaos ini sangat nyaman dikenakan. Sejarah kaos polos di tahun 1955 aktor film James Dean juga mengenakannya untuk judul Rebel Without a Caue. Produksi bertambah, pabrik banyak berdiri oleh karena itu, pada 1961 ada organisasi bernama Underwear Institue mencoba memperjuangkan.

Mereka ingin agar penggunaan T-shirt dilegalkan dan tidak terbentur asas kesopanan. Organisasi ini memberikan data serta fakta. Bahwa industri sudah berkembang. Baju ini bisa digunakan sebagai mode baru. Tidak hanya itu, pertumbuhan ekonomi masyarakat juga bertambah, hingga kemiskinan bisa dihindarkan.

Sebagai Media Menuangkan Kreativitas di Semua Bidang

Sejarah Kaos Polos tidak lepas dari kreativitas desainer. Mulai segi warna tidak hanya putih saja, bahkan perpaduannya lebih dari satu. T-shirt tersebut juga digunakan untuk menulis berbagai aspirasi. Seperti, menulis berbagai kata mengenai propaganda dengan berbagai tema, terutama politik.

Terutama saat pemilu, menggunakan foto sebagai bahan promosi. Bahkan, cara seperti ini masih digunakan hingga sekarang. Dari segi biaya memang jauh lebih mahal. Tetapi, cukup efektif memberi pengetahuan sampai ke pelosok. Waktu itu, belum ada alat komunikasi hingga media sosial.

Media ini berkembang, tidak hanya berupa sindiran, melainkan kata motivasi atau slogan dalam pengembangan iklan. Para pengusaha menilai, iklan dalam T-shirt cukup efektif karena, selalu digunakan ke mana saja. Perhatian orang juga akan tertuju pada setiap huruf dan membacanya sampai selesai.

Keuntungan lantas berkembang, bukan hanya pengusaha serta desainer saja merasakan penjualan berlimpah. Pekerja seni khususnya pelukis juga mendapatkan kesempatan. Mereka dipercaya memberikan gambar terbaik untuk motif. Mulai dari sederhana sampai bentuk art cukup rumit.

Menjadi Model dan Ide Bisnis Menguntungkan

Sejarah Kaos Polos tidak hanya berkembang di Inggris serta Amerika Serikat. Beberapa negara di dunia juga memulainya. Lebih kreatif dari segi desain, sehingga terlihat fashionable. Menggunakan berbagai teknik pemotongan tampak lebih menarik untuk yang hobi bepergian. Bahkan, pernah masuk dalam pemecahan rekor dunia.

Lebih tepatnya tanggal 22 Desember 2011 di Colombo, Sri Lanka. Mereka menggunakan kurang lebih 257 kaos sekaligus dalam satu kesempatan. Sebelumnya, rekor ini pernah dilakukan di Kota Hwang Kwang Hee, Korea Selatan. T-shirt yang dikenakan mencapai 252 buah.

Pemecahan rekor seperti ini sebagai bukti bahwa peminat pakaian ini setiap tahun mengalami penambahan pemakai. Dari segi bisnis cukup menguntungkan, karena tidak membutuhkan biaya produksi terlalu tinggi. Sementara, harga jualnya cukup tinggi dipasaran. Bisa menembus ratusan hingga jutaan rupiah.

Sejarah Kaos Polos Pertama Kali Populer di Jogja dan Bali

Demam pakaian polos ini juga terjadi di Indonesia. Tepatnya pada tahun 1980, di mana Yogyakarta dan Bali adalah kota pertama. Jadi pelopor dengan produk bernama Dagadu serta Joger. Keduanya begitu unik serta menarik. Tidak meniru gaya luar negeri, tetapi lebih mendukung unsur lokal.

Sampai saat ini, keduanya masih jadi ciri khas. Tidak heran wisatawan sering mengatakan belum ke Jogja atau Bali bila lupa membawa Dagadu serta Joger. Kemampuan mereka bertahan tidak lepas dari pelopor utama dengan berbagai desain kekinian, menarik dan selalu baru.

Dari segi harga keduanya pas di kantong para pelajar. Biasanya, produk ini laris karena adanya program study tour dari sekolah. Kunjungan mereka memang membawa dampak positif bagi industri konveksi di kedua daerah tersebut. Bahan yang digunakan juga bukan sembarangan, itulah alasan mereka senang membelinya.

Begitu juga dengan produk Bandung, terkenal dengan nama C59. Pemasarannya sudah sampai ke seluruh Indonesia. Kualitasnya sangat bagus, serta nyaman digunakan. Ketiga nama besar ini jadi inspirasi industri konveksi lain menciptakan berbagai macam kreasi. Tidak hanya wisatawan Nusantara, wisatawan mancanegara juga menyukainya.

Sebagai Salah Satu Identitas Sebuah Komunitas yang Tercipta dari Sejarah Kaos Polos

Keunggulan lain dari pakaian polos adalah sebagai salah satu identitas diri. Biasanya, sebuah komunitas sering menggunakannya untuk seragam. Identitas ini memang penting, agar tidak keliru serta sebagai pembuktian diri dan sarana promosi. Apalagi, dengan berbagai macam kegiatan tampak lebih kompak.

Bahkan, ada juga pasangan kekasih yang lebih memilih kaos polos, dikenakan saat mereka pergi sebagai bukti, bahwa keduanya adalah pasangan kekasih. Bisa juga digunakan sebagai pernyataan atau ungkapan untuk suatu keadaan sosial. Sebagai contoh sebuah peribahasa yang berbunyi tangan diatas lebih baik dari tangan di bawah.

Ungkapan seperti ini, memaknai sebuah kebaikan harus dimulai dengan memberi tanpa meminta. Atau bentuk lainnya yang mencerminkan bagaimana kamu atau komunitas yang diikuti. Karena, kata seperti sudah menjelaskan secara garis besar ke mana arah kelompok tersebut.

Data dan fakta unik memang menarik untuk disimak, perjalanan panjang yang awalnya hanya digunakan para tentara. Kemudian, menimbulkan polemik berkepanjangan adalah bukti bila produk ini mempunyai kualitas tidak biasa. Sejarah Kaos Polos merupakan industri kreatif yang akan terus bertahan dengan berbagai model.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *